Kamis, 06 Maret 2008

Desa Bangsri (Jepara)

Desa Bangsri, Kecamatan Bangsri ada di ibu kota kecamatan, jadi termasuk daerah kota. Jarak antara pesantren dari kecamatan hanya 1,5 km. Karena terletak di daerah kota, maka perumahan penduduk di sini rata-rata sudah padat sebagaimaa umumnya kota besar. Bahkan, pesantren ini terletak di tengah-tengah pemukiman padat penduduk. Menurut KH Nuruddin Amin, sebetulnya ada niatan untuk mengembangkan pesantren lebih luas lagi dan menambah lokal kelas, namun itu semuanya masih terbentur oleh kesulitan memperluas lahan. Mungkin, alternatifnya adalah membangun pesantren dan lembaga pendidikan di bawah naungan pesantren di tempat lain yang masih di sekitar situ. Jika hanya mengandalkan lahan yang sekarang ditempati pesantren, bila ingin menambah lokal, yang bisa dilakukan adalah meningkat saja. Untuk memperluasnya, agak susah dilakukan.

Menurut data monografi desa Bangsri, luas desa ini adalah 748.978 ha. Sedangkan batas-batas wilayahnya adalah: sebelah utara dengan Kedungleper/Updalan, selatan dengan Tengguli/Jambu, sebelah Barat dengan Jeruk Wangi, serta sebelah timur dengan Banjaran. Jarak desa ini dari pusat pemerintahan kecamatan adalah 0,5 KM, dengan Kabupaten Jepara 17 KM, dengan Propinsi Jawa Tengah 87 KM, dengan Ibu Kota Negara 600 KM. Jumlah penduduk desa Bangsri adalah: laki-laki 8035, perempuan 8393. Sedangkan jumlah kepala keluarga adalah 3586 orang. Untuk status kewarganegaraannya, seratus persen WNI atau 16428 orang WNI, untuk WNA 0. Komposisi pemeluk agama di sana adalah: jumlah penganut Islam 15517 orang, Kristen 11 orang, Katolik 15 orang. Mata pencaharian penduduk Bangsri terdiri dari: karyawan 964 orang, wiraswasta 693 orang, tani 141 orang, pertukangan 619 orang, buruh tani 369 orang, pensiunan 93 orang, nelayan 4 orang, pemulung 3 orang, jasa 153 orang. Jumlah pemerintahan adminstrasi di bawah desa: RT 72, RW 18. Jumlah pegawai pelayanan masyarakat: pelayanan umum 10 orang, kependudukan 1 orang, legalisasi 1 orang. Jumlah wajib pajak desa Bangsri: 5215 orang, sedangkan jumlah realisasi yang terkumpul Rp 132.910.131,-. Untuk Lembaga Musyawarah Desa, jumlah anggota LMD/BPD-nya 15 orang. Keuangan dan sumber pendapatan desa, bantuan pemerintah Rp 99.953.000,-. Sarana peribadatan yang ada di desa ini: masjid 15 buah, mushola 33 buah, gereja 3 buah.

Sarana pendidikan yang ada di desa ini adalah: TK 10 gedung, 22 guru, 336 murid. Untuk tingkat SD 11 gedung, 81 guru, 1993 murid. Sedangkan tingkat SMTP/SMP 4 gedung, 69 guru, 1349 murid. Tingkat SMA: 3 gedung, 63 guru, 906 murid. Selain pendidikan umum, di desa ini juga ada pendidikan khusus, yaitu: Madrasah 6 gedung, 111 guru, 1955 murid. Sarana olahraga yang ada di Bangsri ada 6 jenis dan 19 buah model. Sarana kesenian/kebudayaannya 6 jenis dan 11 buah. Sarana sosial ada 7 jenis dan 83 buah. Untuk pemukiman penduduk, terdiri dari: perumahan permanen 1998 buah, semi permanen 682 buah, rumah non permanen 83 buah. Di daerah ini tidak ada komplek perumahan. Kelembagaan desa: jumlah pengurus LKMD 50 orang, jumlah Kader Pembangunan Desa (KPD) 18 orang, jumlah tim penggerak PKK 21 orang, jumlah Kader PKK 834 orang. Sedangkan kelompok bidang kemasyarakatan terdiri dari: Majelis Taklim 38 kelompok dengan 1907 anggota, Majelis gereja 3 kelompok dengan 314 anggota, remaja masjid 5 kelompok dengan 496 anggota, remaja gereja 3 kelompok dengan 39 anggota.

Kesejahteraan

Penduduk desa Bangsri, umumnya hidup sebagai kelas menengah ke bawah. Artinya, dilihat dari tampilan fisiknya, mereka rata-rata hidup berkecukupan, meskipun ada beberapa yang masih miskin. Sesuai dengan pengamatan langsung oleh peneliti, rumah-rumah di sana rata-rata sudah cukup bagus dan memadai, serta terbuat dari beton atau dinding permanen. Jarang sekali ada rumah yang secara fisik jelek atau masih terbuat dari bambu. Hal itu mungkin sangat berhubungan dengan matapencaharian penduduk daerah ini yang sebagian besar berprofesi sebagai karyawan dan wiraswasta. Bahkan, untuk menemukan show room mobil atau motor di daerah ini, bukan sesuatu yang susah. Sebab, ada juga beberapa penduduk yang membuka usaha di bidang itu. Mereka yang mempunyai kendaraan roda empat pun, bukan menjadi pemandangan yang jarang ditemukan.

Meski banyak yang hidup secara cukup dan memadai, namun penduduk Bangsri yang mendapatkan Raskin (beras miskin) juga banyak. Hal ini menandakan bahwa kemiskinan masih juga terjadi di daerah ini dan sebagain penduduknya mengalami hal itu. Dari total jumlah penduduk 16.428 orang atau 3.586 KK, awalnya yang mendapatkan raskin berjumlah 500 KK. Jumlah itu saat ini menurun menjadi 300 KK. Bila kita gunakan persentase, kira-kira saat ini jumlah KK yang mendapatkan Raskin adalah 10 %. Hal itu dikuatkan oleh Carik (sekretaris desa) Bangsri bahwa jumlah yang menerima raskin saat ini kira-kira ada 1.200 orang. Biasanya, Raskin setelah diterima Kelurahan langsung dibagikan ke penduduk lewat RT masing-masing. Dengan jumlah raskin 6,5 ton, maka Per KK (Kepala Keluarga) mendapatkan 20 kg. Jumlah di atas, tentu bisa digolongkan kecil atau masih dalam taraf sejahtera. Bila dibandingkan dengan daerah Pamotan, Rembang, penduduk Bangsri-Jepara ini, rata-rata memang tampak lebih makmur dan sejahtera.

Kesejahteraan penduduk Bangsri, juga tampak dari sarana-sarana yang mereka miliki. Dari jumlah masjid dan lembaga pendidikannya saja, daerah ini banyak jumlahnya. Begitu juga dengan sarana olahraga, kesenian, kebudayaan, dan sebagainya. Penduduk di sana, rata-rata sudah memiliki telepon pribadi dan banyak terdapat wartel. Matapencaharian penduduk yang rata-rata menjadi pedagang, wiraswasta, dan PNS itu, rupanya sangat berkaitan dengan kondisi desa Bangsri dan sekitarnya yang lahan pertaniannya sudah tidak ada. Tanah pertanian yang masih ada, biasanya adalah tanah bengkok (tanah inventaris desa) yang diberikan kepada para petinggi atau pejabat kelurahan. Lahan-lahan bengkok itu, sebagian disewakan ke pabrik tebu dan sebagian disewa ke petani. Namun, kebanyakan disewa pabrik tebu karena harganya lebih tinggi. Menurut pak Bambang, pertanian di Bangsri yang menyusut menjadi kecil itu, sejak tahun 1990-an. Meskipun rata-rata penduduk Bangsri sejahtera dan di atas garis kemiskinan, namun untuk soal fasilitas listrik ternyata masih ada dukuh/bagian dari desa yang belum terpasang. Di daerah Bangsri yang dekat hutan, ada sekitar 14 rumah yang belum bisa mengakses internet dan telpon. Padahal, fasilitas itu sangat mereka butuhkan. Oleh perangkat desa, hal itu sudah pernah dan sering disampaikan ke pihak kecamatan untuk ditindaklanjuti, namun sampai sekarang belum juga terealisasi.

Pendidikan

Sesuai dengan data BPS Jawa Tengah, Jepara adalah daerah yang penduduk miskinnya relatif tidak banyak. Menurut data yang dihimpun pada tahun 2005, persentase penduduk miskin di Jepara adalah 9,88 %. Ini sangat berbeda jauh dengan Kabupaten Wonosobo yang menjadi daerah termiskin pertama dengan jumlah persentase 33,15 % dan Kabupaten Rembang yang menempati urutan kedua dengan persentase 32,00 %. Posisi persentase kemiskinan itu, tentu sangat berpengaruh pada kondisi pendidikan di daerah ini. Menurut Carik/Sekretaris Desa Bangsri, rata-rata anak usia sekolah desa ini menempuh pendidikan baik di tingkat SMP maupun SMA. Bahkan, jumlah lembaga pendidikan SD, SMP, dan SMA di desa dan kecamatan Bangsri pun, sudah cukup memadai. Dulu memang pada tahun 1988-1991, di desa ini pernah dibuka program Kejar Paket A dan B, tapi itu hanya berjalan selama 3 tahun. Sebab, setelah itu anak-anak usia sekolah lebih memilih untuk masuk sekolah umum atau agama formal yang di desa ini bukan hal yang sulit untuk dimasuki dan didapatkan. Untuk soal biaya pendidikan, tampaknya masyarakat daerah ini juga tidak keberatan. Hal ini berdasarkan pada angka biaya sekolah yang umumnya diterapkan di sekolah-sekolah daerah ini.

Pernyataan tentang kondisi pendidikan di daerah Bangsri ini juga dikuatkan oleh pendapat Kasi Pendidikan Keagamaan dan Pondok Pesantren Depag Jepara, menurut beliau, bila kita ingin membuka Paket C atau B di daerah perkotaan seperti Bangsri, itu pangsa pasarnya kurang bagus. Sebab, di sana sudah ada sekolah formal dan umumnya banyak anak-anak yang sekolah di tempat-tempat itu. Dan santri-santri yang ada di pesantren pun, umumnya lebih banyak yang sekolah formal. Hal itu menunjukkan bahwa pendidikan formal baik tingkat SD, SMP, dan SMA maupun yang sederajat, baik di kalangan masyarakat umum maupun di pesantren Jepara, tidak menjadi persoalan penting. Artinya, partisipasi masyarakat untuk mengikuti pendidikan formal sudah tinggi. Menurut penuturan KH Nuruddin Amin, soal pendidikan formal memang bukan sebuah kendala yang serius. Terbukti, anak-anak yang sekolah di MTs dan MA Hasyim Asy’ari yang jumlahnya ada 1800 siswa-siswi itu, rata-rata berasal dari desa-desa sekitar Bangsri dan Kecamatan-kecamatan yang ada di Jepara.

Meskipun soal pendidikan formal tidak menjadi masalah, namun ketika kita melihat angka tamat sekolah di Kabupaten Jepara, umumnya hampir sama dengan beberapa Kabupaten lain yang ada di Jawa Tengah. Dari data yang ada di BPS Jawa Tengah, menunjukkan bahwa angkat tamat sekolah tingkat SLTP tahun 2005 berjumlah 5.898 dari 21.422 (27,532 %). Sedangkan untuk SLTA 3.901 dari 13.104 (29,769 %). Angka itu hampir sama dengan Kabupaten Rembang yang angka tamat sekolahnya untuk tingkat SLTP berjumlah 5.323 dari 17.364 (30,665 %) dan tingkat SLTA-nya berjumlah 2.840 dari 9.198 (30,876 %). Menurut data yang ada di Diknas Jepara, APK (angka partisipasi kasar) tahun 2005-2006 untuk tingkat SD/MI adalah 111,13, SMP/MTs 87,17 %, dan SMA/MA/SMK 19,40 %. APM (angka partisipasi murni) tingkat SD/MI adalah 99,06 %, SMP/MTs 87,17 %, dan SMA/MA/SMK 19,40 %. Sedangka angka DO (drop out) tahun 2005-2006 adalah: SD 150 siswa, MI 37 siswa, SMP 199 siswa, MTs 305 siswa, SMA 162 siswa, MA 197 siswa, SMK 41 siswa. Dari angka-angka itu, meski penduduk Jepara tergolong sejahtera dan lembaga pendidikan formalnya banyak, namun APK tingkat SMA/MA/SMK-nya masih rendah, dan angka DO untuk tingkat itu juga tinggi. Hal ini menunjukkan, bahwa soal pendidikan di Jepara ini meski bukan persoalan yang pelik, namun tetap ada masalah-masalah yang masih menjadi PR mereka dan kita semua.

Pendidikan yang Dibutuhkan

Karena masyarakat daerah Jepara ini kebanyakan sudah menempuh pendidikan formal, maka pendidikan yang sangat dibutuhkan bagi masyarakat Jepara, khususnya desa Bangsri adalah pendidikan yang memberikan wawasan tambahan dan ketrampilan agar ketika mereka lulus dari pendidikan formal nanti, bisa bekerja atau membuka usaha sendiri. Hal ini paling tidak dinyatakan oleh H. Khoirul Faizin, Lc, Kepala Sekolah MA Hasyim Asya’ri Bangsri, Jepara. Menurut beliau, life skills itu diharapkan bisa menjadi ketrampilan untuk pegangan ketika para siswa terjun di masyarakat. Misalnya: bordil, jahit menjahit, tata boga untuk siswa-siswa perempuan. Sedangkan untuk siswa laki-laki adalah perdagangan, pertanian, montir, dan ketrampilan yang bisa membuat mereka lebih maju. Pernyataan itu juga dikuatkan oleh pendapat Carik/Sekretaris Desa Bangsri. Menurut beliau, untuk membuka Kejar Paket B atau C, di sini kurang pas karena sudah banyak sekolah umum. Yang lebih tepat adalah life skills, dan life skills yang mereka butuhkan adalah: pelatihan komputer, perbengkelan, kursus menjahit, dan bahasa Inggris. Life skills itu, sangat mereka inginkan untuk membuat hidup dan pekerjaan mereka selama ini lebih maju dan sukses.

Memang, bila kita pelajari data-data yang ada di PLS (Pendidikan Luar Sekolah) Diknas Jepara, penyelenggaraan Paket B dan C disini sudah sangat banyak dan sepertinya tidak menjadi alternatif lagi bagi anak didik usia sekolah. Soalnya, rata-rata yang mengikuti pendidikan informal itu adalah mereka-mereka yang sudah berumur. Oleh karenanya, tempat penyelenggaraannya mayoritas adalah di PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat) yang ada di kecamatan-kecamatan. Meskipu ada juga yang berpusat di pesantren, namun jumlahnya sangat sedikit, hanya ada 3 buah. Bahkan, menurut Ibu Sri Yati, staf PLS Diknas Jepara, hampir semua Kecamatan ada program Kejar Paket C-nya. Untuk saat ini, jumlah peserta Pendidikan Kejar Paket C adalah 3200 orang, sedangkan tahun 2006 adalah 2800 orang. Untuk Paket B, jumlah pesertanya adalah 600 orang. Jumlah penyelenggara Kejar Paket C 819 lembaga, bahkan ada di sebuah kecamatan yang ada 100 lebih penyelenggaranya. Ketika ditanya kenapa kok jumlah Paket B-nya tidak signifikan dibandingkan Paket C, Ibu Sri Yati malah menyatakan bahwa Kejar Paket B untuk daerah Jepara sebetulnya sudah cukup.

Untuk PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat) Kabupaten Jepara sendiri, tempatnya ada di kecamatan-kecamatan yang ada, yaitu: Keling, Bangsri, Kembang, Jepara, Kedung, Tahunan, Kalinyamatan, Mayong, dan Nalomsari. Di situ, ada wadahnya untuk menjadi tempat masyarakat beraktivitas belajar, baik kejar Paket B, Paket C, maupu life skills. Selain itu, PKBM juga menangani kelompok KF (keangsraan fungsional), Paket A, kursus, PAUD (pendidikan anak usia dini), dan taman bacaan masyarakat. Untuk lembaga kursus, yang berada di bawah atau terdaftar di Dinas PLS ada 34 lembaga. Sedangka PAUD ada 43 lembaga. Dari semua model pendidikan alternatif itu, memang yang sangat dibutuhkan masyarakat Jepara adalah life skills. Untuk pemudanya, misalnya kerajinan dan pengasinan buah. Sedangkan untuk putrinya adalah menjahit dan tata boga. Pelatihan komputer juga sangat dibutuhkan bagi masyarakat Bangsri khususnya dan Jepara umumnya. Soalnya, dalam urusan membuat tulisan, tugas sekolah atau kuliah, keperluan administrasi organisasi, surat lamaran, surat undanga, pengumuman, dan sebagainya, ketrampilan jenis ini sangat dibutuhkan sekali. Bahkan, menurut KH Nuruddin Amin, Pesantren Hasyim Asya’ri sangat ingin menjadi e-learning centre yang bisa bermanfaat dan memberikan kontribusi yang berarti bagi masyarakat sekitarnya, khususnya dalam soal life skills ini. Selama ini, kontribusi yang sudah diberikan adalah dalam soal keagamaan, moralitas, organisasi, penyuluhan kemasyarakatan, dan pendidikan formal. Oleh karenanya, dengan life skills ini, diharapkan pesantren semakin bermanfaat bagi masyarakat sekitarnya dan umat Islam umumnya

4 komentar:

Azha Nabil mengatakan...

Salam silaturrahmi dari kami, Pesantren Ath-Thohiriyyah Purwokerto, Banyumas.
Kunjungi web kami di http://www.thohiriyyah.com

terimakasih.

ahmad mengatakan...

kami warga dorang sangat mendukung pendidikan iptek di pesantren

ahmad mengatakan...

kami warga dorang mendukung pendidikan iptec di pesantren

Zaka Riya mengatakan...

kami warga bangsri ampean mendukung di tambahnya mata pelajaran fiqih di skolah2.
krn bangsri adalah identik dg kota santri.

Pengunjung ke

Kontak

Alamat: